Negara-negara di kawasan Asia Tenggara, purchase khususnya yang tergabung dalam komunitas ASEAN (Association of South East Asian Nations), seek menjadi primadona ekonomi untuk kawasan Asia. Sejumlah negara di ASEAN seperti Indonesia, ailment Filipina, Malaysia, Thailand, Brunei, Singapura, seperti sedang menikmati “bulan madu” kemajuan ekonomi tersebut. Namun pihak Modern Cancer Hospital Guangzhou melihat dan mengingatkan kalau kemajuan ekonomi sebuah kawasan atau negara biasanya berimbas pada kualitas kesehatan warga di kawasan atau negara tersebut.

“Kemajuan ekonomi biasanya membuat masyarakat memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga cenderung mengabaikan pola hidup yang sehat. Kami melihat jumlah penderita kanker di ASEAN terus meningkat selama beberapa tahun terakhir. Kami sungguh mengkhawatirkan hal ini,” ujar Lin Shaohua, General Manager Modern Cancer Hospital Guangzhou.

Dalam pembukaan “Forum Akademi Tumor Minimal Invasif ASEAN Pertama” di Ayodya Resort Nusa Dua, Bali, Sabtu (11/4), Lin Shaohua mengungkapkan fenomena tingkat kesehatan warga di negara-negara ASEAN.

Acara ini dipandu oleh penyiar TVRI Sumut, Melani Hapsari. Forum menggunakan dua bahasa, yakni bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.

Kegiatan ini dihadiri puluhan dokter spesialis kanker dan internis di Indonesia dan sejumlah negara-negara ASEAN. Hadir juga sejumlah pasien kanker yang sembuh berkat penanganan Modern Cancer Hospital Guangzhou, Tiongkok. Mereka memberikan testimoni atas proses penanganan minimal invasif dalam penanganan kanker di rumah sakit tersebut.

Kata Lin Shaohua, beberapa tahun terakhir di kawasan ASEAN ada jutaan penderita kanker. Pihaknya memerkirakan jumlah penderita kanker di ASEAN mencapai 20 juta kasus pada tahun 2025.

“Dalam 20 tahun ke depan kami memprediksi total peningkatan jumlah kasus penderita kanker di negara-negara ASEAN naik lima kali lipat. Ini jelas angka yang mengkhawatirkan, karena mengakibatkan tingkat morbilitas atau kematian masyarakat di kawasan ASEAN akibat penyakit kanker meningkat tajam,” papar Lin Shaohua.

Sementara Wakil Presiden ASEAN Tumor Invasif sekaligus Kepala Ahli Kanker Tiongkok, Prof Zhang Feng, menyebutkan, forum ini diadakan untuk menghadapi besarnya ancaman kanker karena pola hidup yang tak sehat yang dijalani warga di kawasan ASEAN. Kemudian, pihaknya juga melihat warga di ASEAN cenderung pasrah dalam penananganan penyakit kanker. Ini mungkin disebabkan oleh rendahnya tingkat teknologi medis yang ada dalam penanganan penyakit kanker. Karena itu dia menyemangati masyarakat dan dunia medis di ASEAN bahwa kemajuan teknologi medis tidak ada batasnya.

“Forum ini diadakan untuk mendiskusikan kemajuan teknologi antikanker plus metode pengobatan tradisional Tiongkok dengan dunia medis di negara-negara ASEAN,” tegasnya. (hendrik hutabarat)