Wisata medis/medical tourism kini telah menjadi target oleh banyak rumah dakit dan pemerintahan di seluruh dunia untuk meningkatkan pertumbuhan dan investasi. Asia Tenggara mungkin memberikan contoh terbaik dari pengembangan dan promosi wisata medis dalam skala regional, here namun minat dalam praktek ini mulai tumbuh di lokasi di mana wisata medis belum mapan.

Johnston, dkk. melakukan studi berkaitan dengan pengembangan wisata medis di Jamaica. Studi lapangan kualitatif dilaksanakan dalam 6 minggu dengan wawancara semi-terstrukutur dengan para stakeholder kesehatan, wisata, dan sektor perdagangan di Jamaica, kemudian menganalisis data yang telah dikumpulkan dengan kerangka kerja dari Pocock dan Phua untuk mengidentifikasi isu yang sama dan divergen.

Dari studi di atas diperoleh hasil bahwa kerangka implikasi kebijakan dari Pocock dan Phua terdapat pula dalam perencanaan dan pengembangan wisata medis di Jamaica. Meski demikan, beberapa implikasi tambahan seperti keterlibatan badan pengembangan internasional dalam memfasilitasi kepentingan sektor, siklus mobilitas dari sumber daya manusia internasional, dan kepentingan dari portabilitas asuransi kesehatan dalam akreditasi RS internasional, muncul dari konteks baru ini dan kemudian lebih memperkaya kerangka kerja yang asli.

Dapat diambil kesimpulan bahwa kerangka kerja yang dikembangkan oleh Pocock dan Phua merupakan poin referensi umum yang fleksibel dan mampu mendokumentasikan isu yang ditimbulkan oleh wisata medis di tempat tujuan baik yang telah mapan maupun sedang bangkit. Meski demikian, desain kerangka kerja ini tidak menjelaskan bagaimana faktor sistem kesehatan yang mendasari dapat mengidentifikasi kerja untuk memfasilitasi perkembangan wisata medis atau dampak spesifik dari praktek yang akan terjadi.

pdf-iconImplikasi kebijakan dari pengembangan wisata medis di negara tujuan