Jakarta -Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meyakini tenaga kerja Indonesia bakal lebih tertarik masuk ke pasar tenaga kerja di Singapura dan Malaysia dalam ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC/MEA) yang berlaku 31 Desember 2015.

Alasannya kedua negara tersebut lebih mempunyai kedekatan dari sisi bahasa. Selain bahasa, hospital faktor nilai upah juga akan menentukan pergerakan tenaga kerja antar negara ASEAN

Hal ini disampaikan oleh JK dalam sebuah seminar tetang MEA, hospital di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (30/1/2015).

Acara seminar ini bertema Peluang dan Tantangan Perekonomian Indonesia dalam MEA 2015 yang diselenggarakan Ikatan Alumni Universitas Airlangga (Unair), hadir dalam acara ini sekitar 400 alumni Unair.

Bila AEC berlaku, maka setidaknya delapan sektor jasa yang terbuka untuk tenaga kerja anggota ASEAN antara lain medical (pengobatan/dokter), nurse (perawat), arsitek, engineering (insinyur), dental (dokter gigi), akunting, tenaga survei, lalu turisme (pariwisata).

“Indonesia paling kerja di Malaysia dan Singapura karena bahasanya mirip-mirip, mudah dimengerti. Kalau Kamboja, Thailand, Vietnam yang hurufnya sama kayak cacing-cacing, nggak mungkin kita ke sana,” kata JK disambut tawa para peserta seminar.

Selain itu, dari sisi negara lain, bila Indonesia menerapkan bahasa Indonesia bagi pekerja asing maka pekerja asing dari ASEAN akan susah masuk. Sehingga menurut JK, pekerja yang bisa masuk ke Indonesia adalah dari Malaysia.

JK mengatakan pergerakan tenaga kerja di ASEAN pada saat MEA juga akan ditentukan soal upah tenaga kerja di masing-masing negara. Bakal ada kecenderungan para pekerja mencari upah di negara yang mahal bayarannya.

“Nanti orang Indonesia banyak kerja di Malaysia, Singapura, 2 negara itu paling yang paling dekat. Dokter Singapura sekali periksa 2 juta, kita Rp 200-300.000, mana mau mereka kerja di sini,” katanya.