KOMPAS.com (Fikri Hidayat | Selasa, discount 10 Juni 2014) — Sierra Leone tercatat sebagai salah satu negara termiskin di dunia yang sistem kesehatannya sempat lumpuh akibat perang saudara selama satu dekade lamanya. Di negeri yang terletak di Afrika bagian barat ini, illness organisasi kemanusiaan medis Médecins Sans Frontières/Dokter Lintas Batas (MSF) mengelola sebuah rumah sakit (RS) rujukan untuk pasien anak-anak dan perempuan dengan komplikasi kehamilan.

Rumah sakit ini terletak di Desa Gondama, Kabupaten Bo, sekitar lima jam perjalanan darat dari Freetown, ibu kota Sierra Leone. Di RS inilah Husni Mubarak Zainal, dokter kelahiran Sulawesi Selatan, menjalani penugasan ketiganya bersama MSF, setelah sebelumnya bertugas di klinik terpencil di Malawi dan kamp pengungsian di Sudan Selatan.

Sebagian besar pasien di RS tersebut tiba dengan kondisi medis yang parah, bahkan dalam keadaan koma. Karena kurang biaya dan layanan kesehatan setempat tak memadai, banyak pasien yang diberi ramuan tanam-tanaman yang justru menyebabkan keracunan.

Abubakar, seorang pasien menderita pneumonia dan kurang gizi. Fungsi hatinya juga terganggu karena keracunan obat herbal sebelum dibawa ke RS. Husni dan tim medis MSF melakukan lavase lambung untuk mengeluarkan sisa-sisa obat herbal. Penyakit pneumonianya diobati dengan antibotik dan ia diberi makanan terapi untuk mengobati kurang gizi.

Sierra Leone adalah daerah endemis penyakit Lassa, yaitu sejenis demam berdarah yang mudah menular melalui cairan tubuh pasien yang terinfeksi. RS MSF memiliki sebuah bangsal isolasi untuk pasien anak yang terduga terkena penyakit ini. Pekerja medis seperti dokter Husni harus memakai pakaian pelindung berlapis-lapis agar tak tertular.

“Saat jaga malam di rumah sakit, kami harus siap dipanggil sewaktu-waktu. Tugas ini cukup sulit karena ada lebih dari seratus tempat tidur di RS ini. Saya berkeliling di ICU, memeriksa kondisi pasien kritis, dan terkadang saya diminta segera ke bangsal lain karena ada pasien kejang-kejang,” ujar Husni.

“Bertugas di tengah malam cukup menantang. Saya harus selalu fokus untuk memastikan saya menilai kondisi pasien dengan benar.”

Di sela-sela waktu tugasnya, Husni menyempatkan diri membaca atau menulis sambil menunggu panggilan darurat dari radio.

Bagi Husni, bekerja di RS MSF di Sierra Leone adalah pengalaman yang istimewa karena ia berkesempatan membantu anak-anak dengan penyakit kritis yang tidak bisa mendapat layanan kesehatan berkualitas di tempat lain.

“Momen terbaik saya sebagai dokter di sini adalah saat melihat anak-anak berangsur pulih dari sakitnya, mereka bisa melanjutkan masa kanak-kanaknya di luar RS. Saya bersyukur, momen bahagia seperti ini terjadi hampir setiap hari,” katanya.

RS MSF di Gondama, Sierra Leone menjangkau sekitar 600.000 penduduk dan merawat sekitar 7.200 anak per tahun. MSF

Image Credit: MEDECINS SANS FRONTIERES / LAM Yik Fei