Tahun 2016 telah mulai dijalani, there dan semua tantangan yang ada di dalamnya, tentu saja, harus dihadapi dan diselesaikan. Bagi negara-negara di kawasan ASEAN, khususnya Indonesia, salah satu tantangan nyata adalah pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Indonesia adalah salah satu negara penggagas berdirinya Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara pada 1967. Latar belakang politik yang dikembangkan menjadi ekonomi, dan kesejahteraan jadi falsafah utama pembentukannya.

Kedokteran sebagai profesi tertua, juga di Indonesia, telah menunjukkan hal ini dengan baik melalui keberadaan Konsil Kedokteran Indonesia produk Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Model seperti ini secara bertahap telah pula diikuti oleh profesi lain, seperti hukum dan teknik.

Tentu kita sepakat bahwa dokter adalah mereka yang karena keilmuannya berusaha menyembuhkan orang sakit. Namun, tidak semua orang yang menyembuhkan penyakit bisa disebut dokter. Sebab, untuk menjadi dokter, dibutuhkan pendidikan khusus agar profesional dengan diberi gelar dari lembaga pendidikannya. Gelar dokter itu semakin menarik dan membanggakan karena di masyarakat, hanya dokter yang dipanggil dengan menyebut gelar pendidikan tersebut. Mungkin, itulah salah satu yang menjadi sebab banyak ibu atau orang tua (zaman dulu) yang “ ngudang” anaknya sambil berujar, “Ayo Nak belajar yang pinter biar besok jadi dokter.”

Seperti diketahui pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, latihan, ataupun penelitian. Kalau ada tokoh hebat dan pintar, sering kali orang bertanya, di mana universitas atau sekolahnya.

Padahal, tidak semua lulusan sekolah atau universitas tersebut hebat dan sepintar tokoh tersebut. Ada tokoh yang hebat, tapi sekolahnya tidak sampai pendidikan tinggi atau bergelar sarjana. Tapi, sampai sejauh ini, tidak ada seseorang yang otodidak tanpa menyelesaikan pendidikan di fakultas kedokteran kemudian menjadi dokter.

Buya Hamka pernah berujar, “Dengan ilmu, kehidupan menjadi mudah; dengan seni, kehidupan menjadi indah; dan dengan agama, kehidupan menjadi terarah.” Karena itu, izinkan saya (penulis, Red) turut berpesan kepada semua sahabat saya yang bertugas menjadi gurunya calon dokter maupun calon spesialis agar kelak memilki “ABC” yang baik. Attitude (perilaku) nya baik, Brainnya baik (ilmunya banyak), dan Competent (cekatan tangannya).

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memenuhi kebutuhan kemaslahatan masyarakat. Masyarakat kita saat ini berada di era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dengan BPJS Kesehatan sebagai pengelola tunggal pembiayaannya.Beribu-ribu klinik, puskesmas, dan rumah sakit sudah dan akan menjadi penyelenggara pelayanan. Dibutuhkan regulasi penyelenggaraan pelayanan kesehatan agar tetap pada kaidah ilmu kedokteran.Tingkat dari semua penyelenggara pelayanan kesehatan memang beragam dari segi kapasitas kemampuan memberikan pelayanan. Bekal ilmu dokter yang bekerja di berbagai tingkat penyelenggara pelayanan kesehatan tentu tidak sama pula.

Dokter, doktor, ataupun profesor tentu canggung untuk menerapkan ilmunya di puskesmas, apalagi terpencil di tempat tugas almarhum dokter Andra. Jadi, sebenarnya tidak ada yang bisa membedakan seorang dokter lebih pintar daripada dokter yang lainnya. Yang ada hanya seorang dokter lebih dahulu tahu tentang suatu ilmu pada wawasan yang lebih sempit dan mendalam, serta menjalankan profesinya dengan baik. Perbedaan semakin terasa ketika “apresiasi” masyarakat juga berbeda atau mungkin dibuat berbeda.

Apakah sejauh ini para dokter umum yang menjaga ujung tombak pelayanan kesehatan tidak mampu memberikan pelayanan dasar yang profesional di tempat tugasnya? Penyesuaian kurikulum di fakultas tentu menjadi lebih bijak dengan mendengarkan pengalaman dan gagasan mereka yang bertahun lamanya menjalankan profesi dokter di masyarakat..

Kiranya dibutuhkan solidaritas positif dari para dokter untuk menjaga citra positif profesi. Karena itu, pendidikan dan pelatihan profesi butuh menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Jaminan Kesehatan Nasional dengan konsep asuransi sosial bidang kesehatan butuh dicermati lebih saksama agar tidak muncul arogansi yang mematahkan kaidah asuransi kesehatan publik. Dibutuhkan dialog multilateral berbagai pihak agar tercipta sistem penjaminan kesehatan masyarakat bukan dari aspek kuratif semata, melainkan totalitas sinergi yang berkeadilan.

Perlu diingat, mempertahankan manusia Indonesia tetap sehat secara jasmani, rohani, dan sosial adalah bagian dari memajukan kesejahteraan umum sebagaimana diamanahkan dalam tujuan negara. Masalah kesehatan bukan saja masalah kuratif, melainkan patut diperhatikan aspek promotif dan preventif.

Tidak perlu munafik bahwa bekerja itu memang untuk mencari uang. Namun, kalau tumbuh keinginan untuk menjadi dokter karena ingin menjadi kaya, boleh jadi itu akar masalahnya. Pendidikan untuk menjaga keluhuran profesi dokter janganlah pernah luntur hanya karena MEA. Semoga (*).