Vietnam kekurangan tenaga dokter dengan spesialisasi tertentu. Sel punca di sana pun baru tahap penelitian. Berikut laporan wartawan koran ini MUNIROH yang baru berkunjung ke sana.

PASIEN begitu berjubel di ruang perawatan bedah saraf itu. Tak ada kamar tidur yang kosong. Namun, di sisi lain, hanya beberapa dokter yang terlihat di ruangan.

Padahal, Rumah Sakit (RS) Viet Duc di Hanoi, Vietnam, tersebut merupakan rujukan nasional. ’’Memang banyak problem kesehatan di Vietnam. Kami tidak punya dokter dengan spesialisasi tertentu,’’ ujar Deputi Departemen Bedah Saraf RS Viet Duc dr Dai Ha.

Kondisi serupa terjadi di beberapa rumah sakit yang dikunjungi dua dokter dari Indonesia, dr Asra Al Fauzi SpBS dan dr Achmad Fahmi Ba’abud SpBS. Selama dua hari (30–31/5), dua dokter dari Surabaya Neuroscience Institute (SNeI) itu menyaksikan perkembangan pelayanan kedokteran di negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia tersebut.

RS Francais de Hanoi, contohnya. Rumah sakit yang 100 persen modalnya dimiliki asing itu memang mempunyai fasilitas yang lumayan lengkap. Misalnya, fasilitas MRI dan CT-scan untuk saraf. Tapi, dokter bedah sarafnya tidak ada. Akibatnya, kalau ada kasus saraf yang butuh penanganan, pasien harus dirujuk ke RS Bach Mai yang dokter sarafnya juga terbatas.

Di RS Bach Mai yang di Indonesia setara dengan RSCM (Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo) Jakarta, penyakit parkinson juga hanya ditangani dengan memakai obat-obatan. Berbeda dengan Surabaya yang sudah 15 kali memasang DBS (deep brain stimulation) dan 156 brain lesions untuk kasus gangguan pergerakan.

Karena itu, pada hari pertama kunjungan yang dihadiri perwakilan rumah sakit di Wisma Duta KBRI, dr Achmad Fahmi Ba’abud SpBS mendapat banyak pertanyaan tentang penggunaan DBS. Termasuk metode stereotactic brain lesion. Yaitu, pemakaian alat bor otak untuk mengendalikan gangguan gerak.

Menurut Fahmi, teknik itu memang butuh seni. Jika irisan di kepala terlalu kecil, parkinson bisa kambuh kembali setelah satu sampai dua bulan pasca penanganan. Kalau irisan terlalu besar, pasien malah tidak bisa bergerak.

’’Harus pas sehingga gangguan geraknya bisa hilang permanen,’’ ucapnya di depan sekitar 30 dokter dan President of Vietnam Psychiatric Association Prof Tran Van Cuong.

Di mata Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Ibnu Hadi, pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) seperti sekarang ini, kondisi di dunia medis Vietnam itu menjadi potensi yang bisa digarap Indonesia. Ibnu menuturkan, dalam waktu dekat ada satu institusi rumah sakit di Indonesia yang menanamkan modal di Vietnam.

Rumah sakit di Vietnam juga bisa diambil alih atau dibeli Indonesia. ’’Vietnam lebih liberal untuk masalah ini, bisa menjadi potensi yang prospektif,’’ ujarnya.

Berbeda dengan Indonesia yang memproteksi diri dengan berbagai aturan, Vietnam tidak menerapkan ketentuan yang sulit di sektor industri kesehatan. Karena itu, pebisnis kesehatan di Indonesia bisa masuk Vietnam.

Yang pasti juga, Vietnam sangat tertarik belajar ke Indonesia. ’’Kami ingin mengirim dokter untuk belajar neurofungsional ke Indonesia,’’ ucap dr Dai Ha.

Menurut Dai, beberapa spesialisasi yang tidak ada itu, antara lain, bidang bedah saraf. Yakni, endovaskuler dan neurofungsional. Dua kasus itu sering hanya ditangani dokter bedah saraf biasa. Misalnya, kasus parkinson dan gangguan pergerakan lain.

Mereka belum bisa menggunakan deep brain stimulation (DBS). Yakni, alat khusus yang ditanam di otak untuk mengurangi movement disorder. Berbeda dengan Indonesia yang sudah menjadi pionir untuk penanganan parkinson di Asia Tenggara.

Selama ini, fasilitas kesehatan di Vietnam lebih banyak menangani kasus neurotrauma. Dalam setahun, ada sekitar dua ribu operasi bedah trauma kepala di RS Viet Duc.

Melongok ke jalanan negeri bekas jajahan Prancis itu, angka tersebut menjadi wajar. Sebab, kedisiplinan berlalu lintas di negeri berpenduduk sekitar 91 juta jiwa itu masih rendah. Misalnya, yang terpantau Jawa Pos di Hanoi, banyak sekali warga yang naik motor dengan hanya mengenakan helm proyek. Lalu lintas juga kurang tertata dengan baik. Tak mengherankan, angka kecelakaan sangat tinggi.

Menurut Ibnu, kedatangan tim dari Surabaya dinilai sebagai pintu menjalin relasi dalam bidang kesehatan. Maklum, kerja sama terakhir di dunia medis antara Indonesia dan Vietnam tercatat pada 1992. Artinya, sudah 16 tahun lalu.

’’Ini menjadi upaya memasarkan industri kesehatan di Indonesia,’’ ucapnya.

Menurut Ibnu, sudah waktunya pada era MEA bidang kesehatan digarap secara serius. Dia mencontohkan Malaysia dan Singapura yang meraup pendapatan besar lewat promosi wisata kesehatan yang gencar.

Langkah menjalin kerja sama dengan Vietnam juga diharapkan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan Indonesia pada masa depan. Dr Asra Al Fauzi SpBS memberikan contoh manfaat di bidang pendidikan dan penelitian.

Beberapa rumah sakit di Vietnam akan menyekolahkan para dokternya di Surabaya. ’’Fellowship program ini menunjukkan bahwa kita mampu membawa nama Indonesia di dunia medis. Sudah saatnya kita go international,’’ katanya.

Selain bertukar pengetahuan, dokter-dokter dari Indonesia bisa menjadi visiting professor di berbagai rumah sakit di Vietnam. Kalau tidak bisa datang langsung, ada pula teknologi telekonferensi. Selanjutnya, pasien dari Vietnam bisa ditangani di Surabaya.

’’Dalam jangka panjang, Vietnam menjadi pangsa pasar kita,’’ ujar Asra.

Bukan hanya itu, dokter dari Indonesia juga bisa bekerja di Vietnam. Bahkan, L’Hopital Francais de Hanoi menawari para dokter di Indonesia untuk bekerja di Vietnam. Tidak ada syarat harus bisa berbahasa lokal.

General Manager RS Francais de Hanoi Lucien Blanchard menyebutkan, pihaknya terus berusaha menambah fasilitas. Saat ini dibangun gedung baru dengan tujuh lantai. Jawa Pos bersama tim dokter dari Surabaya juga sempat diajak berkeliling untuk melihat kemajuan pembangunan tersebut.

Beberapa lahan di sekitar rumah sakit sudah ditutupi seng. Dua tahun lagi pasca selesainya pembangunan, rumah sakit tersebut otomatis membutuhkan banyak dokter. ’’Saya akan sangat membuka diri kalau dokter Indonesia mau bekerja di sini,’’ tegas Blanchard.

Selain itu, bidang penelitian di Vietnam akan menjadi bidikan kerja sama. Contohnya, penelitian di bidang stem cell atau sel punca oleh Universitas Airlangga-RSUD dr Soetomo. Di Surabaya, antrean pasien untuk mendapat layanan stem cell sudah mencapai tiga bulan dengan jumlah pasien empat orang per hari.

Hal itu berbeda dengan rumah sakit di Hanoi yang masih sebatas melakukan penelitian. ’’Kami sangat kagum. Anda melakukan banyak hal. Kami tunggu risetnya untuk dipublikasikan,’’ ujar Presiden Asosiasi Neurologi Hanoi sekaligus Kepala Departemen Neurologi RS Bach Mai Prof Le Van Thinh PhD.

Pasca pertemuan itu, tim dokter dari Indonesia diundang untuk menghadiri konferensi dokter bedah se-ASEAN di Hanoi pada akhir tahun mendatang. Dari situ, kerja sama dan kolaborasi dunia medis antara Vietnam dan Indonesia akan dilanjutkan. (*/c5/ttg)