Kini dunia tengah menyaksikan outbreak terbedar dari Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) di luar kawasan Timur Tengah yang berlanjut di Korea Selatan. Berdasarkan gambaran dari WHO, drugstore terdapat 41 kasus  MERS-CoV, termasuk 4 di antaranya meninggal. Salah satu dari 41 kasus di atas juga dikonfirmasi oleh Cina.

MERS-CoV sebenarnya virus yang menyerang hewan, bukan menyerang manusia. Berasal dari kelelawar, dan dapat berpindah ke manusia melalui intermediate hewan, kemungkian unta. Namun demikian, virus ini dapat menyebar antar manusia di satu tempat, yaitu rumah sakit atau di rumah dimana terjadi kontak yang sering dengan penderita. Outbreak ini dimulai ketika warga Korea berusia 68 tahun kembali ke Seoul pada 4 Mei setelah mengunjungi 4 negara Timur Tengah. Sebelum terdiagnosis, ia telah menyebarkan virus tersebut ke tenaga kerja kesehatan, keluarga, dan pasien di 4 tempat pelayanan kesehatan tempat ia dirawat.

Berdasarakan situasi di atas, WHO menganjurkan semua negara untuk mengawasi infeksi pernafasan akut dan mereview dengan hati – hati adanya pola yang tidak biasa. Pencegahan infeksi dan kontrol harus dilakukan untu mencegah penyebaran MER-CoV di pelayanan kesehatan. Sulit mengdentifikasi pasien MERS-Cov dikarenakan gejalanya yang tidak spesifik. Karenanya tenaga kesehatan harus selalu melaksanakan tindakan pencegahan dasar terhadap semua pasien dengan diagnosis apapun. Pencegahan droplet harus dijadikan standar pencegahan ketika melayani pasien dengan gejala infeksi pernafasan; pencegahan kontak dan pelindung mata harus ditambahkan ketika melayani pasien dengan kemungkinan atau telah terdiagnosis dengan infeksi MERS-CoV; pencegahan penularan melalui udara (airborne) harus dilakukan ketika melakukan prosedur menyalakan aerosol.

Hingga ada ada pemahaman lebih lanjut dari MERS-CoV, pasien dengan diabetes, gagal ginjal, penyakit paru kronis, dan pasien immunocompromised harus dianggap memiliki risiko tinggi untuk terkena infeksi MERS-CoV. Karenanya pasien tersebut harus dihindari dari kontak dekat dengan hewan, terutama unta, ketika mengunjungi peternakan atau pasar dimana diketahui kemungkinan adanya virus MERS-CoV.  Perlindungan hygiene umum seperti cuci tangan setiap sebelum dan setelah menyentuh hewan dan menghindari kontak dengan hewan sakit harus dilaksanakan. Kebersihan makanan juga harus diawasi. Masyarakat harus menghindari minum susu unta mentah atau urine unta, atau daging unta yang belum masak hingga matang.

WHO tidak menganjurkan adanya skrining khusus pada pintu masuk negara dengan adanya kejadian ini maupun merekomendasikan adanya syarat travel atau restriksi perdagangan.

Korea Selatan melakukan pekarjaan yang bagus dalam mengontrol outbreak MERS-CoV. Karena penyebaran yang rendah antar manusia, MERS-CoV dapat dikontrol dengan penilaian kesehatan masyarakat, dimana kini pemerintah Korea Selatan melaksanakannya dengan agresif. Pemerintah mencari jejak kontak dari pasien terinfeksi dan memonitor mereka selama 14 hari – periode inkubasi maksimal MERS-CoV. Siapapun yang mulai menunjukkan gejala langsung diisolasi.  Sejauh ini, semua kasus baru telah ada dalam daftar kontak pasien yang semakin meyakinkan bahwa outbreak ini berada dalam kontrol.

Sumber :

http://www.who.int/csr/don/06-june-2015-mers-korea/en/

http://www.scientificamerican.com/article/mers-outbreak-in-south-korea-deemed-not-to-be-a-global-threat/