Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun 2015, sales Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jatim sekaligus Direktur RSU dr Soetomo Surabaya, store dr Dodo Anondo MPH akan menyeleksi lebih ketat masuknya dokter umum asal luar negeri yang ingin menjadi tenaga medis di Jatim.?

?Persi Jatim menerapkan beberapa kualifikasi dan persyaratan bagi tenaga medis yang bekerja di Jatim, generic yakni harus lolos syarat kualifikasi termasuk di antaranya mempunyai izin profesi, pemahaman akan kultur budaya di Jatim maupun mengerti penggunaan bahasa Indonesia.

Di samping verifikasi ulang kompetensi tenaga kesehatan asing, baik itu dilihat dari dokumen akademik, surat tanda registrasi negara asal serta pengalaman kerja.?

?”Kami tidak bisa menolak masuknya dokter asing dan harus bisa bersaing. Saat ini, tenaga medis seperti halnya dokter umum di Jatim sangat banyak. Tenaga medis asing yang ikut mencari peruntungan dengan bekerja di dalam negeri, maka harus sesuai persyaratan dan aturan berlaku. Kami juga dilindungi Perda tentang Tenaga Kesehatan di Jatim,” ungkapnya, Minggu (23/11/2014).

Untuk diketahui, Perda tentang Tenaga Kesehatan telah disahkan DPRD Jatim dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas tenaga kesehatan di Jatim, terutama menghadapi era pasar bebas Asean 2015.

Peningkatan kualitas itu sangatlah mendesak, karena pada 2015 telah memasuki era Asean Free Trade Area atau AFTA. Era ini akan memunculkan ledakan jumlah tenaga kesehatan asing serta persaingan dari negara tetangga Asean yang bekerja di Indonesia. Namun, di sisi lain, ini juga adalah peluang bagi tenaga kesehatan Indonesia untuk masuk ke negara Asean lain.

Menurut dia, dokter yang dibutuhkan di Jatim saat ini, yakni dokter spesialis atau sub spesialis yang tidak dimiliki tenaga medis di Jatim. Di samping itu, untuk membendung tenaga medis asing.?

?Dirinya menambahkan, rumah sakit juga harus bisa melakukan inovasi di layanan kesehatan dengan menampilkan kelebihan maupun ikon yang dimiliki, seperti RSU dr Soetomo memiliki ikon penanganan bayi kembar siam, stem cell dan pusat pelayanan jantung terpadu (PPJT).?

Kadinkes Jatim dr Harsono menambahkan, menjelang diterapkannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 mendatang, pemprov Jatim akan membuat regulasi terkait dokter luar yang ingin bekerja di Jawa Timur.?

?Sementara itu ketika disinggung untuk serbuan dokter spesialis dirinya menjelaskan, pemerintah juga memberikan batasan pada tenaga ahli kesehatan yang masuk ke Indonesia. Dokter atau perawat asing yang bisa melakukan praktik di Indonesia, yakni tenaga kesehatan yang belum ada dan jumlahnya terbatas.?

Dari data Dinkes Jatim, dokter spesialis saat ini berjumlah 2.039 orang dokter. Sementara kekurangannya mencapai 2.205 orang dokter, karena idealnya jumlah tenaga dokter spesialis di Jawa Timur sebanyak 4.244 dokter.?

?”Jatim kekurangan dokter spesialis meliputi dokter spesialis gigi, spesialis jiwa, spesialis mata, spesialis anastesi, dan spesialis jantung,” pungkasnya.