Penyakit langka dicirikan dengan prevalensi yang rendah dengan mayoritas merupakan penyakit kronik dan mengancam nyawa. Karena sedikitnya pasien, kemungkinan dapat terjadi disproporsi antara ketersediaan pengobatan dan sumber daya untuk menangani, riset dan para ahli. Hal semacam ini benar-benar terjadi di negara-negara Asia Tengggara. Meskipun disebut “langka”, lebih dari 45 juta orang atau sekitar 9% populasi di Asia Tenggara menderita penyakit ini. Kurangnya penelitian dan pengawasan aktif dikarenakan kurangnya sumber daya dan pendanaan. Kurangnya data epidemiologi juga menyebabkan pemetaan dan manajemen penyakit-penyakit ini masih tidak jelas. Selengkapnya Klik Disini